Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Februari 2014

Day 5: Banjarbaru, Kota tercinta!

Tantangan 30 hari alias 30 days Challange.

Day 5: Post a photo (that you took by yourself) from the city you live in and write some explanation about it atau Indonesia -nya Post foto (yg kamu foto sendiri) daerah tempat tinggal kamu dan beri sedikit penjelasan 

Banjarbaru kota idaman
Kotanya indah damai dan nyaman
Masyarakatnya tertib dan sopan
Taat ibadah taqwa dan beriman

Kota ini ramah lingkungan
Tertata rapi dihiasi taman
Lapangan murjani dan perkantoran
Kebanggaan kota pendidikan

Di cempaka menghasilkan intan
Landasan ulin sentra perdagangan
Syamsudin noor bandara kebanggaan
Siap menyambut tamu yang datang


Simpang empat ada bundaran
Menghiasi kota asri dan menawan
Sejauh-jauh mata memandang
Banjarbaru kan selalu dikenang

Nah, yang diatas ini adalah Mars Kota Banjarbaru. Dari liriknya memang benar-benar mencerminkan Banjarbaru, lah. Mau dengar saya menanyi? Saya bangga dengan Mars kota saya ini. :) Yuk cerita-cerita apa saja yang saya banggakan dari Kota ini.


Banjarbaru, Kota Idaman.

Bundaran
Saya lahir, besar, bersekolah, dan kuliah di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Dan saking cintanya dengan kota ini, niatnya sih mau tetap tinggal dan menua di kota ini.

Apa saja sih yang bisa dibanggakan dari kota Idaman ini? Baca terus yuk postingan ini.

Senin, 25 Februari 2013

Praktikum Lapangan Farmakognosi 2


Maaf, cerita ini pakai bahasa non formal, ya. Tapi jangan lihat bahasa nya, tapi lihat apa pesan yang bisa kita dapat di dalamnya :) 

Sabtu, 23 Februari yang lalu, kami mahasiswa Farmasi FMIPA Unlam angkatan 2011 mengadakan praktikum lapangan ke Desa Bramban, Kecamatan Piani, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. :D
Tujuan praktikum lapangan kami adalah mengenal kondisi lingkungan yang dapat menyebabkan tumbuhnya habitat tumbuhan. Selain itu untuk mengambil bahan/sampel untuk penelitian di laboratorium yang dimaksudkan untuk inventarisasi dan identifikasi terhadap kandungan zat berkhasiat yang berperan dalam pengobatan. Dengan memakai seragam PL (Praktikum Lapangan) yang sama, kami sebanyak 79 praktikan dan 3 dosen pengasuh sudah berkumpul di kampus dari pukul 6 pagi.
Orang umum mungkin melihat kami para farmasis cuma berurusan dengan obat dan apotik. Padahal nggak, kok. :D Kami juga mencintai alam, kami menghargai tanaman obat dan obat tradisional yang turun temurun di wariskan pada kami. Saya sendiri orang asli Kalimantan yang sampai sekarang masih sering mendapati lingkungan saya yang menggunakan obat tradisional. cieee :D
Tujuan PL kami-Desa Bramban-tidak terlalu jauh dari pusat kota Tapin. Jalan yang dilalui juga mulus dan tanpa hambatan. Dari Banjarbaru ke lokasi PL hanya ditempuh sekitar 2,5 jam. Awalnya saya pikir untuk sampai ke lokasi harus melewati jurang yang kalau kepeleset sudah langsung masuk jurang. Tapi ternyata nggak kok. :D

Perjalanan...
Desa Bramban termasuk desa yang masih asri dan hijau. Sepanjang jalan menuju lokasi tempat pengambilan sampel masih bisa dilihat hutan-hutan yang rimbun. Tapi beberapa kilometer dari lokasi hutan tersebut kami malah melihat sebuah tambang batu bara yang sangat besar. Dari dalam angkot kami memutari lahan itu, dan cuma bisa teriak woooow, saking besarnya, dan mau nangis lihat pulau kelahiran sudah mulai di rampas keasriannya. :D
Sayang sekali kan? Beberapa kilometer dari hutan yang sangat subur dan belum terjamah malah ada sebuah tambang batu bara besar. Bayangkan, untuk membuka sebuah tambang batu bara sebesar itu mungkin harus membuka lahan hutan sebesar ratusan hektar. Padahal kalau dipikirkan baik-baik, untung yang didapat dari tambang batu bara akan habis suatu waktu, tapi untung yang diberikan hutan kepada manusia bisa tetap terus dimanfaatkan sampai anak cucu kita nanti.

Time to hiking! Wuhuuw!
Lanjut, ya. Sesampainya di lokasi PL, kami turun dari angkot dan belum apa-apa saya sudah lapar. Ups! :|
Kemudian dilakukan pembagian bapak pemandu. Kami, kelompok 5 dan 13 dikenalkan dengan pak Nyoto. Tanpa basa-basi, langsung bawa peralatan dan lainnya.
Terus ya? Terus, untuk sampai ke hutan itu kami harus menggulingkan diri. Dan pas saya baru mau sampai di tanah hutan, itu pak Nyoto sudah ada puluhan kilometer di depan saya. Bapaknya lincah betul! Padahal usia beliau mungkin sudah 70-80 tahun. :)
Belum juga kami mengambil tanaman yang beliau rekomendasikan, bapaknya sudah sampai ke ujung yang sana lagi. Padahal untuk jalan aja harus dengan badan yang miring 70 derajat. Bayangkan, kaki kanan harus menjejak ke atas, dan kak kiri harus menjejak ke bawah dengan tangan yang megang kayu penyangga. Kebayang nggak tuh? Semacam film 5 cm tapi betulan terjal! -_-
Hutannya itu yang betulan hutan *mikir: emang ada hutan-hutanan?!*
Untuk masuk lebih dalam harus dengan menebas kanan dan kiri. Banyaaaaak banget tanaman obat yang didapat. Ada temulawak, temugiring, kunyit, dan lainnya. Bahkan kami menemukan tanaman yang jarang kita tahu tapi ternyata berkhasiat obat, misalnya temu poh, eukaliptus, mindi, dan lainnya.

Menurut waraga setempat, batang dan akar temu poh bisa digunakan untuk pereda demam, rimpang temulawak sebagai penambah nafsu makan, rebusan daun salam sebagai antihipertensi, tumbukan akar dan batang puyang hutan sebagai pereda demam, dan banyak tanaman lainnya yang dipercaya secara empiris untuk pengobatan warga setempat. :)

Sepanjang jalan nyebut Subhanallah, bumi Kalimantan luar biasa. :)
 
gunungan sampah
Setelah dapat 4 karung tumbuhan, kami yang mulai panas-dingin-kecapean-kepanasan-ngebut-ngejar-menggelinding mengiri langkah pak Nyoto yang lincahnya mengalahkan anak usia 5 tahun. Kami merengek minta pulang, dan ternyata kami harus menaiki gunungan sampah setinggi 3 meter untuk sampai ke jalan setapak. Akhirnya dengan susah payah dan hampir nangis, kami (terutama saya) akhirnya bisa naik *bangga dikit ya, saya menginjak popok bayiiiii*

Sayang ya, hutan yang luar biasa malah dijadikan semacam Tempat Pembuangan Akhir bagi sampah penduduk :(
Makasih Pak Nyoto :)
Sampai di daratan, eh, di jalan setapak, kami akhirnya balik ke pos jaga dan melaporkan tumbuhan yang kami dapat. Ada beberapa tumbuhan yang kami dapat yang ternyata sama dengan kelompok lain. Akhirnya para lelaki yang belum kehabisan semangat balik ke hutan untuk mengambil beberapa tumbuhan lain. You’re rock, guys! \m/


Membuat Herbarium
 Setelah menyortir dan membersihkan tumbuhan, kami membuat herbarium kering dan herbarium basah. Herbarium kering dibuat dengan mengambil bagian perwakilan setiap tumbuhan untuk ditempelkan ke koran kemudian di beri formalin. Setelah semua tumbuhan siap, kemudian diselipkan ke dalam kardus dan di simpan dalam sasak. Herbarium basah dilakukan dengan cara yang sama seperti herbarium kering, bedanya bagian tumbuhan langsung dimasukkan kedalam botol berisi formalin.

Pulang yuk, pulang…
Setelah kegiatan selesai, kami bersiap pulang kembali ke Banjarbaru. Capek memang, tapi menyenangkan. Dan rasanya kecanduan masuk hutan! :B


Pesan dari hutan
Kalau hutan bisa ngomong, mungkin mereka akan bilang:
Kami (baca:hutan) sudah member segalanya buat manusia. Sudah memberi oksigen, kenaungan, tumbuhan obat, dan segala macam yang manusia perlukan. Pantaskah manusia menggunduli kami untuk mengeruk sumber kekayaan di bawah kulit kami?


Pesan dari saya
Ayo kita jaga hutan kita! Ayo kembali ke warisan nenek moyang kita! Ayo banggakan Indonesia dengan kekayaan obat tradisionalnya. :)


Yang baca postingan ini, harus kasih reaksi, atau tinggalkan komentarnya! :D



Selasa, 23 November 2010

Ampel dan hari yg melelahkan

Sabtu, 19 November 2010 lalu.
Tepat sehari setelah ujian terakhir mata pelajaran kimiaku, Mamah tersayang mengajak aku berkunjung ke makam sunan Ampel yang katanya deket dari kos tempat tinggal kami selama di Surabaya. :p

Setelah bertanya berturut turut tentang bagaimana jalan menuju ampel pada ibu kos (karena di surabaya kalo naik angkot bingung! Buat kita orang Banjar yang jarang ke Surabaya bakal nyasar kalo salah naik angkot dengan len berbeda)
Then, kita pun ditawarkan naik taxi atau dengan becak. Karena aku suka jalan2 menghirup udara segar dan melihat lingkungan sekitar yang tergolong ramah dengan berbagai bangunan bersejarahnya, akupun memaksa mamah untuk naik becak aja.

Jalanlah kami naik becak, dengan paman becak yang tergolong ramah dan baik, kamipun memberikan tips lebih buat si paman (intinya: ngasih krn kami gak tega tiap kemana2 liat paman becak uring2an)
untuk sampai ke Ampel, harus melewati pasar atum dan ITC (trade Center). Aku yang exited pengen nyari macam2 barang pun teriak pengen ke ITC sama mama..
Dan... cerita bersambung!
Selagi batrai lepi gue abis dan mati lampu yang lama. Maka dari sebab karena itulah cerita akan saya lanjutkan nanti... hhhhaaaa

Berpetualang di Surabaya 1 (Taxi)

Banyak kejadian lucu saat aku berangkat pulang-pergi Banjarmasin-Surabaya untuk pelajaran internasionalku.

Pada awal kedatangan di Juanda, aku dan mama memutuskan untuk naik taxi bandara. Saat itu kami berdua kelaparan dan berniat membeli roti dulu baru mencari taxi bandara pun keluar dari gerbang kedatangan. Disana kami berjalan dengan santai mencari toko roti yang menurutku hanya enak saat dibeli di bandara.

Tiba-tiba dibelakang kami banyak yang berteriak merayu untuk menaiki mobil taxi yang mereka promosikan. Walaupun sudah tahu kami pasti nanti akan naik taxi, tapi kami tetap menolak dengan halus dan berkata pada mereka kami tidak memerlukan taxi.

Ada seorang bapak taxi yang senyum ramah pada kami dan “kembali” menawarkan taxinya seperti yang lain. Kami menolak tawaran tersebut dengan sangat halus dan berkata mau berkeliling dulu mencari jajanan.

Bapak tersebut hanya tersenyum dan nampak tetap melirik kearah mana kami mengarah.

Setelah kami selesai membeli 3 roti, kami kembali ke gerbang awal untuk mencari taxi yang resmi. Entah muncul dari mana, bapak yang ramah tadi menghampiri kami dan hanya tersenyum saat tahu kami tadi hanya membeli 3 roti (yang padahal dengan kata-kata “berjalan-jalan” yang tadi mama ucapkan seakan kami mau memborong semua isi bandara).

Bapak tersebut mengantar kami keloket tujuan taxi bandara. Disana bapaknya mengobrol dan menanyakan ada perihal apa dating ke Surabaya.

Aku mendadak ingat cerita teman-teman yang serng berkunjung keberbagai daerah. Setiap mereke menceritakan mereka dating dari Kalimantan, penduduk setempat pasti akan mengira Kalimantan masih berupa sungai, rawa, bahkan hutan belantara. Padahal jelas-jelas hal itu sudah terjadi ratusan tahun, dan sekarang Kalimantan sepenuhnya telah menjadi kota metropolitan dengan gedung dan polusi dimana-mana.

Kembali kecerita awal, bapak taxi yang mengetahui aku “akan” kembal kesurabaya lagi dalam minggu-minggu itu tampak heran, kenapa ada “makhluk” yang mau-maunya pulang pergi pulau dengan jarak hanya 5 hari. Yaaaa, tapi itulah aku, mau tak mau aku lebih nyaman berada ditempatku daripada ditempat orang untuk waktu yang lama.

Cerita berlangsung, kami sampai di rumah Tante Misriah dan menginap disana selama 3 hari. Cerita selama di Surabaya untuk pertama kalinya ini pajang, tapi akan ku ceritakan pelan-pelan dipostingan berikutnya. J

Tiga hari berlalu, kami pulang ke Banjarmasin melalui pintu keberangkatan.

Lima hari kemudian, aku dan mama kembali ke Surabaya untuk ujian kedua. Tiba disana, kami melihat-lihat bapak taxi yang sebelumnya dulu menawarkan jasa untuk kedatangan selanjutnya ini agar menaiki taxinya saja (jangan-jangan bapak taxi naksir mama gue! Haha)

Tapi, kami tidak melihat beliau, setelah itu kami berjalan kearah pembelian rot, dan lalu kami kembali ditawarkan taxi oleh bapak supir yang lain. Kami pun berjalan beriringa dengan bapak supir menuju loket pembayaran. Ternyata, disana kami ketemu bapak sopir yang ramah, dan beliau tampak saltng senyum-senyum dan menyapa aku. Tapi toh apa boleh buat, penumpang (baca: aku dan mama) sudah terlaanjur membeli jasa ke sopir yang lain. Bapak sopir yang kedua sempat mau menyerahkan tugasnya mengantar kami ke bapak sopir pertama, tapi beliau tampak enggan.

Setelah selesai pembelian tiket, kamipun berjalan menjauhi loket, tampak bapak sopir ramah kelihatan mengikuti jejak langkah kami.

Menurutku ini lucu, baru kenal beberapa jam, beliu sudah nampak akrab dengan kami dan senyum tulus diuntai untuk kami. Ada sesuatu yang terlihat lucu saat kami mengalami ini dan entah kenapa sulit menjelaskan apa rasa lucunya. Hahaha…

Selasa, 05 Januari 2010

My experience with GANAS and friends

Sebelum ini, ada cerita tetang keceriaan dan harapan. Tapi, ntah kenapa aku lebih pengen menceritakan pengalaman tentang persahabatan
2-5 Desember 2009 Ganas tingkat nasional, Aku juara artikel, Nadya juara Penyuluhan, Rizki juara karikatur, dan Ida juara cipta lagu berangkat rombongan bareng 6 guru pembina (bu Katrin, pak yani, dan guru lainnya yang aku ga hapal namanya . hhe..) dan tiga disdik (pak Pugar, paman urul dan ibu Jastinah).
Awalnya, di bandara, kami berempat masih canggung. Cuma aku sama Nadya yang kemana-mana nyambung (ya iyalaaah, kami kan sekelas). Tapi nyampe di Banten, Aku, Ida , Rizki, Nadya uda pada ngobrol-ngobrol.
Nyampe di hotel *sebut saja* LD, waaah...! Kami sudah seneng banget ngira bakal nginap di itu hotel berbintang, taunya malah dikasih tau “perwakilan Kalsel nginap di hotel *sebut saja* W.
Dengan muka tenggeng dan cape dijalan, berangkatlah lagi ke Hotel. Disana kami istirahat bentar sebelum nyiapin diri buat lomba malamnya.
Kamar hotel yang luas yang seharusnya ditempatin 3 orang malah ditempatin 5 orang. Jadi sempit deh.. T.T
Malamnya, satgas Kalsel serempak memakai baju sasirangan. Padahal satgas dari daerah lainnya memakia seragam satuan tugasnya masing-masing. Bangga juga sih bisa mewakili nama sekolah untuk lomba tingkat nasional.
Tapi ternyata artikel nggak dilombakan secara presentasi kayak yang dibayangkan bu Katrin. Yang dilombakan malam itu cuma 12 besar penyuluhan dan Nadya ga masuk. Ok, ga papa, kan dapat pelajaran tentang penyuluhan anak-anak seluruh Indonesia.
Saat penyuluhan , ada yang bikin kami ketawa, ada yang bikin nganga, ada yang bikin risih karena keseleo lidahya (dia yang salah malah kami yang panik, hhe), ada yang lucu, macam-macam banget deh. Tapi diantaranya ada sebuah kalimat yang aku ingat sampai sekarang “ Jangan buat pengguna narkoba merasa disalahkan, tapi buatlah mereka menyalahkan dirinya sendiri karena telah menggunakan narkoba”. Coba dalami kalimat itu, dengan kalimat yang simple itu maknanya nusuk dan dalam. Kereeen!! (^^)d
Jam 12an malam baru selesai lomba penyuluhannya, saatnya tidur karena besok pagi masih ada acara pelantikan satgas tingkat nasional.
Besoknya,, Triing.. jam beker berbunyi, Bu Katrin langsung bangun dan nyuruh kami cepet-cepet mandi.
Ternyata setelah lamaaa banget nunggu bis buat berangkat ke daerah Banten lama, akhirnya siang banget baru siap.
Di bis, ada sebuah pengakuan dari ‘beruang’ ku tentang masa lalunya bersama Ida. . Entah kenapa, aku yang rapuh dan cemburuan langsung nahan tangis. Sudah gigit bibir sejadi-jadinya di bus, tetap aja mata berkaca-kaca. Nadya yang bingung akhirnya ku beri tahu alasan kenapa diam ku mulai menguasai hari itu.
Ok. Lupakan yang tadi . Sekarang, berangkatlah ke daerah banten lama, disitu sudah ada sebuah gedung tempat pertemuan, besar tapi panas. Disana kami duduk di depan anak-anak daerah Manado (kalo ga salah). Ya Tuhaaannn... PD banget anak yang didepan kami tuh. Nyiapin gitar lah yakin banget bakal menang cipta lagu, Ngeriting rambut, Nyopot kalung lah bilang “Ntar susah kalo disuruh kedepan”. Huekhhh... narsis tingkat tinggi! Eh, ternyata mereka ga menang. Huauaa dapat pelajaran tuh biar ga sombong dulu.. (astagfirullah, jadi penyumpahan lah aku. Hha)
Selesai pengumuman, Ida juara harapan 1 dan Rizki juara 2. Cepat-cepat aku beritahukan pada ‘beruang ku’. Dia Cuma bilang “hebat! Kasih selamat sama Ida.” . ngerikah kamu? Aku down karena sesuatu?!
Kami keluar dari gedung buat nunggu bis jemputan. Dua jam kemudian, ga ada bis yang jemput, padahal guru-guru pendamping udah pada menggila, dah pada lebai, udah bikin kami ketawa ngakak gara-gara guyonannya (katen bag, madu, warik, apapakah mereka tuh. Hhe). Akhirnya berjam-jam duduk di rumput buat kami makin akrab.
Ada yang punya ide buat nyewa angkot aja, akhirnya 13 orang plus seorang supir bejubel dalam angkot. Astagaaaa!!!
Nyampe di Hotel W, kami istirahat bentar, terus berangkat lagi jalan ke Banten lama, ke Masjid Agungnya Banten lama sama ke Soup ikannya di banten. Rasanya nyerenyesss... Hwaha..
Awalnya berniat ke jakarta sore itu juga, tapi ga jadi karena udah kemalaman.
Esoknya, acara satgas uda selesai, berangkatlah ke Jakarta. Luamaaa banget. Macet gila! Tapi nyampe di penginapan, kami langsung plong. Penginapannya PW banget. Enak, luas, nyaman.
Ga lama-lama di penginapan, langung ke tanah abang, ngelilinglah kami bertiga (aku, Ida dan Nadya). Tau ga berapa barang yang di beli? Ga keitung.. kalo dimasukin koper tuh ampe 4 koper ada kaliii... ( hayo ngaku sapa yang paling banyak jajan... haha)
Setelah berjam-jam muter kami tenggeng dan sudah kehabisan tangan buat megangin jajanan, kami pun pulang dengan di bantu pembawa barang dari tanah abang.
Nyampe penginapan uda sore, kami istirahat di kamar dan mulai hitung-hitungan barang bawaan yang sebenernya harga totalnya bikin sakit hati (hha), tapi untungnya uang saku yang diterima masih mendukung..
Malamnya, kami santai tanpa kegiatan. Lebih tepatnya, bosan ga ada apapun yang dikerjakan. Selesai sholat Magrib, kami dapat ide aneh buat jalan-jalan balik ke Tanah abang. Jalan lah kami ber-4 tanpa guru pembina. Kami sudah bilang akan jalan dan jelas ada guru yang mengijinkan.
Dijalan, kami sempatkan ngisi perut yang uda membelit. Kami coba lah makan ketoprak. Iiih waaw.. Rame euy! Hhe.. ada kejadian salah sebut “toge” jadi “kecambah” yang membuat abang ketoprak bingung dan kami tertawa.
Tiba-tiba.. Tenonenonggg... Hp ida bunyi, dan terdengarlah suruhan balik ke penginapan. Disamping gang menuju penginapan, terdengarlah teriakan-teriakan dari guru-guru yang menyuruh kami mendekat. Dan bla bla bla... kami dimarahin sampai mental kami down. Hhe.. kami Cuma nanggapin dengan senyuman.
Akhir dari desiran semburan lucu guru-guru yang kami terima, kami dapat tawaran (sebenarnya bukan nawarin sih, sekedar basa-basi doank!) “kalian mau ikut jalan lagi nggak? Kalo ga mau, cepat balik ke penginapan”.. Menurut kalian itu ngajak apa basa-basi?
OK. Karena merasa kami salah (padahal nggak sih. Kan tadi sebelum pergi kami uda bilang), kami balik ke penginapan. Di penginapan, kami curhat sampai tengah malam. Kami cerita hidup kami, cinta kami, masalah kami, tipe sifat kami, pengalaman dan lainnya. Sebenarnya, tau atau nggak, aku dan ida ada menyembunyikan sesuatu. Aku tahu ini ga pantas buat ditanyakan lagi sama Ida, tapi maaf,Da, aku tahu yang terjadi dulu saat kamu dan seseorang ku SMP. Dan maaf aku masih cemburu. Tapi aku sayang kalian,selamanya.
Liat jam, sudah pukul 12 malam, saat nya tidur kupikir. Aku dan Ida sudah beranjak memasuki kamar kami. Tertinggalah dua makhluk yang sama-sama ku sayang. Dan ntah hanya mereka yang tahu
5 desember. Kami bergegas pulang. Tiba lah pgi-pagi di Bandara. Ternyata, pesawat di pending sampai siang. Menunggu deh kami.
Cerita berlanjut, sampailah kami di Bandara Banjarmasin. Saatnya perpisahan. Ga ada yang ungkapin good bye. Mungkin kami terlalu berharap masih bisa bertemu dan berkumpul lagi seperti biasa..
Bagi ku, 3 malam 4 hari itu berharga dan pengalaman besar dalam hidup ku. Thanks for all that give me this experience. ^^
==> Nb. I will miss u, all. Kapan2 qt ngumpul lg yuk.. jangan ad yg renggang ya...